Ketika Kepintaran Diukur dengan Angka Mungkin sejak awal kita diajari bahwa kepintaran itu bisa diukur. Ia dibungkus dalam angka-angka di raport, lalu ditaruh di meja orang tua, dan dari sana ditimbang seolah itu harga diri. Sejak SD, kita hafal urutannya: Matematika, Fisika, Kimia, dan seterusnya. Semacam hierarki yang tak tertulis: semakin tinggi nilaimu di pelajaran
Hidup yang Dibesarkan oleh Tangan Orang Lain Ada ironi yang tak kasat mata di setiap rumah. Kita dibesarkan oleh tangan-tangan yang mencintai, tapi tak selalu memahami. Duduk di meja makan, tersenyum pada foto keluarga, berangkat ke sekolah yang katanya “terbaik”, namun jauh di dalam dada, ada rasa yang samar—bahwa dunia yang membesarkan kita tidak selalu
Di suatu sore, saya duduk di teras, memandangi pepohonan yang bergerak perlahan. Angin datang dari arah yang tak terlihat. Ia tidak memiliki warna, tidak pula bentuk. Namun, saya tahu ia ada—terasa di kulit, terdengar dari gemerisik daun. Begitulah manusia. Kita tidak selalu bisa melihat isi hatinya, tidak mampu menebak pikirannya. Yang bisa kita rasakan hanyalah
Manusia adalah mesin yang bisa berpikir, merasa, mengingat, dan memilih. Tapi seringkali, kita hidup tanpa mengenal cara kerja mesin itu. Kita tahu cara menyalakan lampu, tapi tak tahu dari mana listriknya mengalir. Kita pandai berbicara, tapi jarang mendengar suara hati yang pelan-pelan ingin didengarkan. Kita lahir dengan satu mesin kecerdasan dominan, begitu kata STIFIn. Sebuah
Ada bilangan yang tumbuh dari dua angka kecil: 0 dan 1. Lalu mereka beranak-pinak, saling menambahkan satu sama lain. 0 + 1 = 1. 1 + 1 = 2. 1 + 2 = 3. 2 + 3 = 5. Dan seterusnya. Bilangan itu disebut: Fibonacci. Ia muncul dalam bunga matahari, kerang laut, bahkan galaksi. Ada
Menemukan Makna di Balik Pengkotakan Manusia Kita hidup di antara penggolongan. Dari sejak kecil, kita diajari nama: laki-laki atau perempuan, baik atau nakal, anak IPA atau anak IPS. Dan kini, STIFIn datang membawa lima kotak kecerdasan genetik—dan sembilan mesin kecerdasan—yang bagi sebagian orang terdengar seperti reduksi dari kompleksitas manusia. Lalu muncul pertanyaan yang menggelitik, seperti